LAPORAN ISOLASI SENYAWA BAHAN ALAM (FLAVONOID)

 

VII.     Data Pengamatan

No

Perlakuan

Tujuan

Hasil

1

Sampel bubuk kunyit dibungkus dikertas saring dan diikat dengan benang

Untuk dilakukan nya ekstraksi

Kertas saring yang diikat telah berisi bubuk kunyit

2

Dirangkai alat sokletasi dan diletakkan labu bulat diatas mantel, tabung soklet diatas labu bulat. Kemudian, ditambahkan batu didih, dimasukkan kunyit yang telah dibungkus tadi dan pasang termometer

Untuk dilakukannya proses ekstraksi dengan metode sokletasi. Ditambahkan batu didih untuk meratakan proses pemanasan

Alat terpasang dengan baik.

3

Ditambahkan pelarut etanol, dipasang kondensor, selang masuk-keluar air lalu hidupkan keran air. Kemudian, dihidupkan heating mantel

Etanol digunakan sebagai pelarut

Beberapa menit pertama dihasilkan warna larutan yaitu kuning muda, setelah beberapa menit berikutnya warna larutan menjadi kuning ke orange an.

4

Dilakukan ekstraksi selama 2 jam

Untuk didapatkan hasil ekstrak kurkumin yang murni

Dihasilkan larutan warna kuning muda

5

Setelah itu , pindahkan ekstrak tersebut ke cawan porselin dan ditambahkan Pb asetat berlebih kemudian ditambahkan asam sulfat encer

Ditambahkan Pb asetat agar terbentuk endapan.

Endapan bagian bawah ekstrak berubah berwarna merah

6

Dilakukan evaporasi

Untuk dilakukan pengeringan pada ekstrak

Ekstrak menjadi kering dan dibagian pinggir cawan porselin terdapat ekstrak yang menempel

7

Diteteskan dietil eter dan dibiarkan kering pada suhu ruang.

Diteteskan dietil eter untuk melarutkan ekstrak yang menempel dicawan porselin dan dikeringkan untuk memperoleh endapan kurkumin.

Didapatkan endapan kurkumin berwarna merah kecoklatan

 

VIII.   Pembahasan

Pada percobaan dilakukan percobaan berkaitan dengan isolasi senyawa bahan alam yaitu flavonoid. Bahan alam yang digunakan pada percobaan ini ialah kunyit, dimana didalam kunyit terkandung senyawa kurkumin.

Sebelum dilakukan proses isolasi kurkumin, kunyit terlebih dahulu dihaluskan dan dikeringkan sehingga menjadi bubuk kunyit. Lalu serbuk kunyit tersebut dibungkus dengan kertas saring dan diikat ujungnya. Hal ini dilakukan agar didapatkan ekstrak kurkumin dari kunyit tanpa zat pengotor. Kantong kunyit tersebut kemudian dimasukan kedalam alat sokletasi, dan ditambahkan dengan pelarut etanol. Kondensor dinyalakan  dan pemanasan dimulai sehingga nantinya pelarut dapat melarutkan kurkumin didalam kunyit sehingga dapat larut kedalam pelarut. Proses ekstraksi ini berlangsung selama 2 jam, sehingga dihasilkan kurkumin dalam keadaan murni. Setelah didapatkan ekstrak kurkumin, ekstrak tersebut kemudian dikeluarkan dan dimasukan kedalam cawan porselin. Untuk menguji apakah didalam ekstrak benar-benar terkandung kurkumin dilakukan pengujian dengan menambahkan Pb asetat dan asam sulfat encer. Pb asetat dapat bereaksi dengan gugus aromatik yang terdapat didalam kurkumin sehingga terbentuk endapan pada larutan tersebut apabila mengandung kurkumin didalamnya. Dari hasil pengujian ini didapatkan bahwa senyawa kurkumin perlahan mengendap dibagian bawah cawan porselin. Lalu cawan dievaporasi untuk menguapkan sisa pelarut yang terdapat didalam cawan, dan proses evaporasi ini juga bertujuan untuk mengeringkan ekstrak kurkumin. Lalu kurkumin yang telah kering dalam cawan porselin tadi ditetesi dengan dietil eter untuk melarutkan kurkumin yang menempel didinding cawan. Lalu larutan tersebut didiamkan pada suhu ruangan hingga didapatkan endapan kurkumin. Endapan kurkumin yang didapatkan pada proses isolasi ini berwarna merah kecoklatan.

 

IX.        Pertanyaan Pascapraktikum

1.      Mengapa serbuk kunyit tidak secara langsung dilarutkan kedalam pelarut, melainkan dibungkus terlebih dahulu dengan menggunakan kertas saring ?

2.      Mengapa pelarut yang digunakan pada proses isolasi ini ialah etanol?

3.      Setelah didapatkan kurkumin dalam keadaan kering, mengapa perlu dilarutkan kembali dengan dietil eter ?

 

X.         Kesimpulan

Dari percobaan ini dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu :

1.   Isolasi senyawa bahan alam yaitu kurkumin dapat dilakukan dengan menggunakan metode sokletasi.

2.   Senyawa flavonoid memiliki sifat cukup larut dalam pelarut polar seperti etanol, metanol, butanol dan aseton. Flavonoid juga memiliki sifat yang mirip seperti fenol yaitu agak asam dan dapat larut dalam basa.

 

XI.        Daftar Pustaka

Braja, M. (2008). Uji Toksisitas Ekstrak daun Ficus elastica Nois ex Blume Terhadap Artenia Salina Leach dan Profil Kromatografi Lapis Tipis. Surakarta: Universitas Muhamadiyah Surakarta.

Heliawati, L. (2018). Kimia Organik Bahan Alam. Bogor: UNPAK Press.

Rahayu, d. (2014). Pemanfaatan Tumbuhan obat Secara Tradisional Oleh Masyarakat lokal dipulau Wawoni. Jurnal Biodiversitas, Vol. 6 No.7.

Theodora, C. T., gunawan, I. W., & swantara, i. M. (2019). Isolasi dan Identifikasi Golongan flavonoid pada Ekstrak Etil Asetat Daun Gedi (Abelmoschus manihot L.). Jurnal kimian, 131-138.

Tim Penuntun Kimia Organik II. 2020. Penuntun Praktikum Kimia Organik II. Jambi : Universitas Jambi.

Komentar

  1. Baiklah saya Vika Seputri (A1C118086) akan mencoba menjawab permasalahan no. 2 menurut saya mengapa pelarut yang digunakan pada proses isolasi ini ialah etanol karena etanol ini merupakan pelarut yang biasa digunakan dalam proses ekstraksi dan juga sama2 kita ketahui bahwa kurkumin ini tidak dapat larut dalam air tetapi dapat larut dalam etanol. Terimakasih 🙏🏻

    BalasHapus
  2. Saya Bella Veronica (095) akan mencoba menjawab no.3 diteteskan kembali dietil eter untuk melarutkan ekstrak yang menempel dicawan porselin dan dikeringkan untuk memperoleh endapan kurkumin.

    BalasHapus
  3. Saya Jony erwin (098) akan menjawab permasalahan no 1 yaitu agar saat proses ekstraksi didapat hanya larutannya saja

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

JURNAL SKRINING FITOKIMIA SENYAWA BAHAN ALAM

JURNAL PERCOBAAN PEMBUATAN SENYAWA ORGANIK ASAM ASETIL SALISILAT (ASPIRIN)

LAPORAN PEMBUATAN SENYAWA ORGANIK ASAM ASETIL SALISILAT